WhatsApp Image 2020-10-17 at 12.00.51

Komisi Kehumasan dan Informatika Kwarnas melaksanakan Webinar seri ke-5 pada Sabtu lalu (17/10/2020).

Bertajuk “Fotografi Dokumenter di Masa Penanggulangan Covid-19 (tingkat dasar)”, bertindak sebagai narasumber Sekretaris Komisi Kehumasan dan Informatika Kwarnas, Kak R. Andi Widjanarko.

Kak Andi menjelaskan, bahwa menurut majalah Life, Fotografi dokumenter adalan visualisasi dunia nyata yang dilakukan oleh seorang fotografer yang ditujukan untuk mengkomunikasikan sesuatu yang penting, untuk memberi pendapat atau komentar, yang tentunya dimengerti oleh khalayak.

Sedangkan menurut Marry Warner, dalam bukunya yang berjudul “Photography: a Cultural History”, mengungkapkan definisi dokumenter secara umum yaitu segala sesuatu representasi non-fiksi di buku atau media visual.

“Untuk membuat sebuah foto dokumenter yang bagus tentunya tidak hanya sekedar snapshot atau asal jepret, melainkan sebuah representasi visual dari keadaan yang menyentuh secara psikologi yang melibatkan emosi sebagai pengalaman personal. Untuk itu emosi sang fotografer menjadi penting. Fotografer tidak hanya sekedar menghadirkan permasalahan dan realitas sosial,” ucap Kak Andi.

Lanjutnya, Kak Andi menjelaskan kata “Dokumenter” yang juga bisa berarti merekam atau menggambarkan dengan artistik kejadian faktual sebuah event atau fenomena sosial. Contoh: masa pandemi Covid-19 atau Cultural.

Menurut Graham Clarke, Dokumenter merupakan evodence/bukti bagi sesuatu hal yang pernah ada atau terjadi, sehingga makna historisnya dapat digunakan pada waktu mendatang sebagai catatan atau laporan kebenaran objektif akan sesuatu hal yang pernah ada atau yang telah terjadi.

Lalu apa yang bisa dilakukan Pramuka yang bukan merupakan seorang jurnalis? Pramuka bisa melakukan peliputan kegiatan Pramuka di rumah. Misalnya: membuat liputan bagaimana cara mencuci tangan sesuai protokol kesehatan. Seorang anggota pramuka bisa menjadi Scout Journalism menyampaikan berita positif dengan gayanya sendiri disertai keterangan 5W+1H, disebarkan lewat Sosial media. Sosial media kini memegang peranan penting.
Jangan lupa menggunakan Hastag/Tagar karena berfungsi untuk mengidentifikasi postingan di dunia maya.

Mengapa foto kegiatan Pramuka diperlukan? Sebagai dokumentasi kegiatan, sebagai karya foto, sebagai media informasi secara visual dan merekam sejarah kepanduan/Gerakan Pramuka.

Kak Berthold DH Sinaulan, Waka/Kakom Kehumasan dan Informatika menambahkan bahwa akan diselenggarakan lomba untuk peserta didik (Siaga, Penggalang, Penegak dan Pandega), Lomba vlog, video pendek, karya tulis, foto, jingle iklan layanan masyarakat dalam rangka membantu mempromosikan upaya penanggulangan Covid-19 dengan tema upaya penanggulangan Covid-19, pemenang akan diumumkan tanggal 10 Nopember pada Hari Pahlawan dengan hadiah yang cukup menarik.

Webinar yang berlangsung selama 2 jam ini dipandu oleh Kak Indah Setyorini. Banyak pertanyaan yang diajukan dalam sesi diskusi, antara lain dari Kak Abdul Salam, Kak Muhamad Kahfi dan Kak Muhamad Azis. Kak Popon Sahara dari Jawa Barat tertarik dengan lomba yang akan diadakan, langsung meminta kejelasan kriteria juara dan apakah kamera depan atau kamera belakang telepon genggam/hp yang bisa dipakai untuk lomba?

“Kriteria harus sesuai dengan tema, minimal tepat sesuai informasi yang menjadi persyaratannya, Kwarnas tidak memilih apa kamera yang digunakan. Satu hal yang harus diingat bahwa kamera depan yang terdapat di telepon genggam/hp lebih kecil karena tujuannya untuk swafoto sehingga kapatitasnya tidak sebesar kamera belakang, rata-rata kualitasnya lebih baik yang dibelakang daripada yang di depan. Sebuah Karya foto harus tampak natural. Kriteria penilaian juga melihat Tehniknya seperti apa sehingga bisa dilihat kualitas foto, lighting, adegannya natural atau tidak. Hal yang penting adalah menangkap momen dengan tepat atau Magic Moment,” jelas kak Andi.

Kak Sukma Widhya yang juga mengikuti Webinar ini memberikan saran untuk tahun depan diadakan lomba foto book kegiatan tingkat kwartir akan dimasukkan kepenilaian kwarda tergiat. Untuk itu harus ada sesi webinar tersendiri bagaimana membuat foto book.

Sebelum menutup webinar ini Kak Indah mengingatkan untuk terus menantikan webinar-webinar selanjutnya yang akan diselenggarakan oleh Komisi Kehumasan dan Informatika Kwarnas yang pastinya akan lebih menarik dan menantang tiap serinya.

Share and Enjoy !