WhatsApp-Image-2021-06-15-at-8.13.03-PM

JAKARTA – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DKI Jakarta menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Temu Jurnalis dan Pegiat Medsos tentang Kepramukaan” pada Sabtu, (12/06/2021). Kegiatan berlangsung daring dan luring. Luring diselenggarakan di Gedung Kwarda DKI Jakarta, jalan Diponegoro 26, Jakarta Pusat. Kegiatan luring hanya diikuti 30 peserta dengan protokol kesehatan. Sementara secara daring lewat aplikasi Zoom dan streaming di You Tube dan media sosial.

Peserta gathering adalah jurnalis, pegiat medsos dan pengurus Kwarda/Kwarcab/Dewan Kerja di Jakarta. Moderator mengundang tiga pemantik diskusi, yaitu:
(1) Kepala Dinas Kominfotik Provinsi DKI Jakarta, Atikah Nur Rahmaniah;
(2) Ester Lince Napitupulu, wartawan Kompas yang sering meliput kepramukaan dan pernah meliput Jambore Dunia Pramuka di Swedia tahun 2011.
(3) Hariqo Wibawa Satria, CEO Komunikonten, penulis buku Seni Mengelola Tim Media Sosial dan Andalan Humas Kwarnas Pramuka periode 2014-2019.

Gerakan Pramuka adalah organisasi yang besar. Pengaruhnya tidak hanya sampai di daerah saja, melainkan sudah mendunia. Kak Ester mengingatkan bahwa Pramuka sudah seharusnya mengenali potensi dirinya. Pramuka tidak hanya memiliki kesempatan eksis di daerah, tetapi bisa sampai internasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi yang dimiliki Pramuka luar biasa. Hal yang perlu diperhatikan saat ini adalah bagaimana Pramuka mem-branding dirinya di media sosial, sehingga jelas makna “Pramuka keren” itu seperti yang apa.

Kak Atikah menggarisbawahi bahaya tersebarnya informasi hoaks. Biasanya hoaks tersebar dari grup keluarga di aplikasi WhatsApp. Ciri-ciri informasi hoaks yang utama yaitu diawali dengan kata-kata sugestif dan heboh. Selain tentang hoaks, Kak Atikah juga menjelaskan adanya perbedaan tentang istilah “Dis-informasi” dan “Mis-informasi. Perbedaan utama dari dua istilah tersebut dilihat dari kesalahan informasi yang disebarkan. Mis-informasi adalah informasi yang salah karena tidak ditelusuri kebenarannya sebelum disebarkan. Dis-informasi adalah informasi yang sudah tahu salah, tapi tetap disebarkan untuk menyesatkan dan merugikan pihak lain.

Kak Hariqo menilai bahwa Pramuka menjadi yang teraktif dalam menyebarkan konten di media sosial daripada organisasi lainnya. Meskipun belum masif, tetapi dapat dilihat bibit-bibit yang telah muncul. Meskipun aktif dalam media sosial, Pramuka harus tetap mengutamakan cirinya untuk terjun ke lapangan. Pramuka harus mengkombinasikan gerakan di internet dengan yang ada di lapangan.

    Kak Hariqo berpesan kepada semua Pramuka penggiat media sosial, “Kegiatan adalah konten, sedangkan konten adalah kegiatan itu sendiri.”

Apa maksud dan tujuan dari kegiatan ini?
“Maksud kegiatan ini adalah membangun hubungan baik dengan jurnalis, pegiat medsos dan pejabat humas di Pemprov DKI sehingga citra positif masyarakat terhadap Kwarda DKI Jakarta terus terjaga dan makin meningkat,” jelas Kak Untung Widiyanto, Ketua Panitia kegiatan ini. “Tujuannya adalah: pertama, terpeliharanya jaringan kemitraan komunikasi antara Kwarda dengan jurnalis, pegiat medsos dan humas Pemprov. Kedua, makin meningkatnya pemahaman dari jurnalis, pegiat medsos dan humas Pemprov terhadap kepramukaan di Jakarta. Ketiga, makin meningkatnya pemahaman pimpinan Kwarda, Kwarcab, Dewan Kerja tentang peran penting media.

Kegiatan secara daring diikuti oleh penggugat medsos Pramuka dari kwarda/Kwarcab di luar Kwarda DKI Jakarta. Semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat bagi pesertanya.

Penulis: Kak Isha & Kak Fitri
Foto: Dok. Kwarda DKI Jakarta

Share and Enjoy !