Sudah berapa bulan di rumah? Ya, harus begitu, agar virus lekas terputus penyebarannya. Jika tidak terlalu penting, jangan keluar rumah.

Banyak yang bisa dilakukan di rumah. Setidaknya kita harus patuh kepada orang tua dan protokol kesehatan. Apalagi masa pandemi ini membuat ekonomi banyak keluarga kacau. Lalu apa yang harus dilakukan seorang Pramuka di masa sulit seperti sekarang?

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah berkebun. Contohnya Pramuka Kwarcab Kota Semarang, Jawa Tengah. Di masa pandemi ini Pramuka Kota Semarang menjalankan program Ketahanan Pangan, dimotori oleh Saka Tarunabumi setempat.

“Dinas Pertanian di sini membantu tanaman yang diserahkan pada Kwarcab dalam program lumbung pangan,” kata Sekretaris Kwarcab Kota Semarang, Kak Mohammad Annur Iskandar.

“Yang ditanam antara lain terong, tomat, cabe, dan sebagainya. Karena dalam keseharian jenis itu banyak dibutuhkan. Juga ada beberapa jenis TOGA (Tanaman Obat Keluarga -red), antara lain pohon Kelor, Asem Jawa, dan Katuk”

Kantor Sekretariat Kwarcab Kota Semarang kebetulan memiliki lahan kosong. Sekitar 500 m2 dan 300 m2 diubah jadi kebun. Di sana ada 25 pohon terong, 25 pohon tomat dan lain-ain. Ada juga hewan peliharaan seperti kelinci, itik, angsa dan ikan lele.

Yang terlibat dari Saka Tarunabumi Kota Semarang hanya 5 orang, dibantu 3 orang dari DKC Kota Semarang. Aktivitas mereka tentu dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.

Apakah sebelum berkebun ada pelatihan? “Untuk pelatihan tidak ada. Kami langsung bertanam sambil belajar. Karena yang didapat itu tanaman sudah usia pindah tanam, bukan bibit. Jadi selama proses hingga panen ini bisa dikatakan berlatih sambil melakukan. Kami juga dibimbing PPL dari Dinas Pertanian langsung yang memantau setiap minggunya,” kata Ketua Saka Tarunabumi Kwarcab Kota Semarang, Kak Nanang Ali Mahmudin.

Berkebun bukan hanya menanam pohon lalu selesai. Tapi ada proses penyiraman, pemupukan, dan lainnya. Untuk itu dibuatkan jadwal piket, misalnya untuk penyiraman setiap sore 1 anggota dari Saka Tarunabumi dan DKC.

Kemudian setiap 2 minggu sekali ada jadwal menyiangi gulma-gulma. Karena ada pohon tomat, mereka membuat sesuatu agar pohon tomat tumbuh dengan baik, dan buahnya menggantung. Dengan kerja tim yang kompak hasilnya bagus.

“Setelah berjalan 56 hari sejak pertama kali menanam, sudah 1 kali panen terong dan tomat. Hasilnya kurang lebih 2 kg dari 2 jenis tanaman tadi. Lalu diserahkan kepada Kwarcab,” kata Kak Nanang.

“Saya lihat mereka senang. Sebenarnya banyak yang ingin ikut tapi kan dibatasi karena pandemi ini. Mereka merasa puas sebab bisa belajar dan sekalian praktek. Itu juga bisa tularkan ke temennya atau mencoba di rumah untuk pengembangan pribadi,” lanjut Kak Nanang.

Kegiatan ini, menurut Kak Annur, akan terus dilanjutkan karena selain jadi lumbung, kedepan diharapkan bisa menjadi tempat berlatih untuk adik-adik Saka Tarunabumi juga sebagai tempat aplikasi ilmu buat mereka.

“Diharapkan menjadi kebun percontohan bagi adik-adik Pramuka yang ingin belajar Pertanian,” jelas Sekretaris Kwarcab Kota Semarang.

Sementara itu, menurut Kak Yan Ariana, Penyuluh Pertanian dari Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, pihaknya hanya mendampingi.

“Saya sebagai pendamping berlaku sebagai teman belajar, bukan menggurui. Saya lihat peserta itu, semangat belajar tinggi. Itu bisa dilihat dari setiap ada masalah pada tanaman. Seperti hama penyakit, cara dan dosis pemupukan. Saya lihat peserta sudah bisa pembibitan sendiri karena rata-rata sudah pernah menanam sebelumnya di rumah. Mereka sudah bisa bermain hidroponik sederhana (sistem wick)”

“Setiap ada masalah hama penyakit selalu konsultasi. Setiap ada kegiatan teman-teman selalu memberi kabar, begitu pun ketika mau panen,” ujar Kak Yan.

Penulis: Kak Fitri
Foto: Dok. Kwarcab Kota Semarang

Share and Enjoy !