57546ec0-ac3a-4407-9194-0cea4e1faf80


Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember diperingati untuk mengenang momentum 22 Desember 1928, ketika digelar Kongres Perempuan Indonesia untuk pertama kalinya. Gagasan peringatan tersebut muncul pada Kongres Perempuan III pada 1938. Tujuan memperingati Hari Ibu sebenarnya untuk memperjuangkan dan memperbaiki keadaan perempuan di Indonesia.

Terkait momentum tersebut, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bali menyelenggarakan Talkshow Nasional yang bertajuk “Ketangguhan Perempuan Bali Diantara Covid-19 dan Kemiskinan” untuk memperingati pergerakan perempuan Indonesia tersebut pada Selasa, (22/12/2020).

Acara Talkshow dibuka dengan kata pengantar dari Ketua Kwarda Bali, I Made Rentin. Beliau menyampaikan bahwa Gerakan Pramuka Bali ikut mengambil andil dalam percepatan penyebaran Covid-19, mulai dari penyemprotan disinfektan hingga pembagian perlengkapan perlindungan diri dan sembako kepada masyarakat.

Kak I Made Rentin berpesan, “Gerakan Pramuka menjadi harapan terbesar untuk bisa menjadi garda terdepan untuk sosialisasi, edukasi, kampanye perubahan perilaku untuk percepatan penanganan covid-19.”

“Meskipun mengenal satuan terpisah dalam Gerakan Pramuka, tetapi pendidikan dan kesempatan yang dimiliki antara laki-laki dan perempuan sama.” ungkap Ketua Kwartir Nasional dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kak GKR Mangkubumi, Ketua Komisi Pengabdian Masyarakat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Kita mengetahui bahwa, Gerakan Pramuka sebagai organisasi Kepanduan Dunia juga ikut membantu tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan. Salah satu poin dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) adalah kesetaraan gender.

Narasumber pertama dalam talkshow ini adalah Kakak Ni Made Widianingsih, seorang aktivisi perempuan di Dusun Gitgit, Buleleng. Beliau lahir dalam keluarga yang menganut budaya patriarkal. Hal tersebut memunculkan keinginan Beliau untuk melakukan sesuatu dalam memberdayakan perempuan. Usaha yang dilakukan Beliau bukan untuk mendominasi, tetapi untuk membangun sinergitas perempuan dengan laki-laki dalam kesejahteraan masyarakat.

Narasumber kedua adalah Kak Luh Riniti Rahayu. Beliau membuka topik dengan pertanyaan “Siapakah perempuan Bali?” Beliau menjelaskan bahwa perempuan Bali dikenal dunia sangat terampil, rajin, dan tangguh. Kita mengingat kembali bahwa masyarakat Bali sangat patriarki. Perempuan Bali sejak kecil dididik dalam berbagai macam keterampilan dan mendapatkan pendidikan yang berbeda dengan laki-laki. Pendidikan ketat sejak masa kecil, melahirkan perempuan Bali yang tangguh. Ketangguhan perempuan Bali sangat berguna untuk penanggulangan Covid-19.

Terakhir, Kak Ardi Adji sebagai bagian dari Pokja Kebijakan TNP2K, Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia memaparkan berbagai macam data tentang “Peran dan Peluang Pemberdayaan Perempuan dalam Menurunkan Angka Kemiskinan di Provinsi Bali”. Pandemi ini telah memberikan dampak pada ekonomi daerah Bali. Dampak tersebut tidak hanya berdampak pada devisa negara karena pariwisata Bali menyumbang 40% devisa Indonesia, tetapi berdampak juga pada lapisan masyarakat seperti hilangnya pekerjaan, tak terkecuali pekerja perempuan.

Teks: Kak Isha

Share and Enjoy !