hapram-59--scaled
Logo Hari Pramyka ke-59 Tahun 2020
Logo Hari Pramyka ke-59 Tahun 2020

Setiap tahun menjelang 14 Agustus, terbit logo Hari Pramuka. Logo Hari Pramuka tahun ini tentu Anda sudah tahu.

Sesuatu itu ada bukan tiba-tiba muncul. Ada proses yang berlangsung dan ada usaha juga. Begitupula dengan kehadirannya logo Hari Pramuka ke-59 tahun 2020. Logo ini dibuat oleh Kak R. Andi Widjanarko. Andalan komisi kehumasan dan Informatika ini bercerita kepada tentang “kehadiran” logo ini.

“Pada tanggal 16 Juli saya di whatsapp dan telepon oleh Waka Kwarnas/Ketua Komisi Organisasi & Hukum (Orgakum): Kak Chairul Huda. Beliau meminta saya untuk membuat logo Hari Pramuka ke-59. Tema logonya nanti disesuaikan dengan tema Rakernas tahun 2020: Peran Gerakan Pramuka dalam Penangulangan Bencana dan Bela Negara,” cerita Kak Andi.

Diakui Kak Andi, untuk proses kreatif dia banyak mencari referensi baik dari buku buku desain yang ada di basecamp maupun dari internet.

“Setelah dapat telpon, saya berpikir lalu mengeluarkan Macboook. Dalam membuat desain saya terbiasa membuat 3 alternatif. Begitu juga dengan Hari Pramuka tahun ini. Desain yang pertama dan kedua berkonsep Pop Art yang sebenarnya lebih ditujukan kepada Peserta didik di Generasi Z. Disainnya colour full, memberikan unsur kebebasan, senang dan gembira tak terbatas. Dan yang ketiga, adalah konsep Perisai/Tameng yang sebenarnya terinsipirasi dari logo 75 RI,” lanjutnya.

Sesuai arahan Kak Chairul Huda, dikaitkan dengan tema Rakernas 2020, yakni bagaimana peran Pramuka dalam penanggulangan bencana dan bela negara.

“Selain siap sedia, Pramuka itu harus selalu ingat tentang proteksi diri untuk menangkal hambatan dari luar. Saya pikir bentuk perisai atau tameng sangat cocok dan sesuai dengan semangat Bela Negara. Bentuk itu sudah sangat familiar di kalangan Pramuka. Bentuk tersebut terdapat di dada Garuda Pancasila. Bentuk perisai atau tameng juga terdapat pada dasar desain badge garuda Kwartir Nasional dan badge Kwarda,” ujar Kak Andi.

Selama 4 bulan ini adik-adik Pramuka di berbagai daerah, selama masa Pademi, dengan sukarela turut serta turun membantu Gugus Tugas Covid-19. Mereka dengan peralatan seadanya melakukan penyemprotan desinfektan ke rumah-rumah dan gedung perkantoran, sekolah, dan fasilitas umum. Mereka pun menggalang dana untuk “korban” akibat situasi dan kondisi ini. Itu yang menginsipasi saya: bahwa adik-adik Pramuka Peduli secara spontanitas melakukan giat sosial dan menjadi “terdepan bergerak”, yang sudah terbiasa dengan manajemen resiko maupun penyesuaian mengikuti protokoler kesehatan tentunya.

Yang paling sulit dalam pembuatan logo menurut Kak Andi, adalah membuat goresan awal saat merancang logo itu dalam menerjemahkan beberapa ide dan masukan serta informasi yang dituangkan dalam bentuk visual.

“Tentunya kita harus mengusai teknik dasar mengambar, untuk membuat sketsa. Setelah jadi sketsa baru saya mengambar menggunakan komputer, baik dengan adobe photoshop maupun adobe illustrator untuk membuat Art Work-nya,” papar Kak Andi.

Saat logo disetujui, setelah terpilih dari beberapa alternatif, tentunya yang paling penting adalah membuat guideline logo serta aplikasi ke medianya agar mudah di duplikat dan disebarkan. Tujuannya, agar satu sama lain tetap konsisten baik bentuk maupun warna, penguasaan teknik produksi juga sangat penting buat para perancang.

Teks: Fitri H.

Share and Enjoy !